Monday, March 2, 2009

Prof. Jeffrey Winters: Rizal dan Erros Sudah Pas Maju 2009

Prof. Jeffrey Winters: Analis Politik Ekonomi Asia Tenggara, Universitas Northwestern, Amerika

Bagaimana Anda melihat ideologi politlk ekonomi Rizal Ramli dan Erros Djarot? Apa perbedaannya dengan Ekonom Lapangan Banteng?

Saya rasa kebanyakan orang di Indonesia tidak paham dengan ideologi. Di sini ideologi dianggap sebagai kata haram. Akibat dari tahun 65.

Ideologi itu merupakan daftar prinsip dasar dari seseorang, gerakan atau organisasi. ltu suatu pegangan prinsip dimana kita tabu berdiri untuk apa, dia mau ke mana, dan mengapa? Dari ideologinya kita tabu logika, analisis, dan batasannya.

Kalau tim ekonomi sekarang mengatakan bahwa kebijkan yang kita ambil tidak menganut ideologi apapun?

ltu bohong. Setiap orang punya ideologi. Dan, kalau dia puas sekali dengan keadaan yang sekarang ini, maka ideologinya adalah status quo. Mempertahankan yang ada karena dia senang. Itu juga prinsip-prinsip dasar. Nah, sekarang kita tinggal melihat apa prinsip yang beredar sekarang.

Artinya pola pikir yang berkuasa sekarang, seperti Sri Mulyani, Mari E Pangestu, Budiono, dan konco-konconya. Mereka adalah cucunya Widjoyo (tokoh awal ekonom Orde Baru), tapi, tanpa visinya.

Karena begini, saya tidak ingin memuji-muji Soeharto dan tim Mafia Berkeley-nya, lihat saja misalnya, Soeharto masih memiliki Repelita (rencana pembangunan lima tahun). lima Repelita itu menjadi target 25 tahunan. Indonesia memiliki goals. Indonesia ada di sini sekarang (menunjuk dengan jari), tapi pada tahun sekian saya ingin menjalankan Indonesia ke sana. lni berarti ada konsep.

Tapi, Sri Mulyani ini pandangannya bulanan. Paling kwartal. Dia tidak mikir lebih panjang dari itu. Kalau ditanya Indonesia mau kemana? Jawabannya ya terserah pasar. Jadi ini jalan tanpa peta.

Kalau Sri Mulyani seperti itu, berarti dia hanya melihat fungsinya sebagai economic leader yang hanya sebagai pembantu pasar dan pemegang modal saja. Para investor maunya apa? Silakan. Saya mau melayani Anda.

Bukannya doktrinnya para ekonom liberal itu sudah seharusnya begitu, mengikuti pasar?

Ini yang lucu. Kalau Widjoyo, All Wardhana dan teman-temannya, mereka sebenarnya liberal, dalam arti membuka pasar tapi mereka planners. Membuat planing yang baik. Mungkin kita bisa setuju atau tidak setuju dengan plannya. Tapi, mereka ada klaim. Mereka berusaha mengambil posisi dalam pasar. Karena mereka duduk dan berpikir. " Mari kita melihat denganjernih. Indonesia datang dari mana, ada di mana, dan mau membawa Indonesia ke mana?" Yang ada disini sekarang (ekonom pemerintah) tidak punya konsep sama sekali. Soalnya saya belum pernah dengar satu plan yang konkret dari yang pegang ekonomi sekarang ini.

Nah, bagaimana Anda melihat Rizal dan Erros?

Saya melihat Rizal dan Erros berbeda. Mereka mau memanfaatkan dan mengarahkan pasar. Karena mereka mengerti motivasi investor. Kalau kita mengerti kekuasaan dan motivasi investor, maka kita bisa mengendalikan dan mengarahkan mereka ke arah yang kita inginkan. Tidak hanya menuruti keinginan investor.

Kalau kita juga akan mengatakan bahwa negara yang mesti menentukan segalanya, itu juga berlebihan. Yang paling efektif, konsepnya pemerintah punya role dan pasar juga bekerja.

Anda melihat sekarang ini pemerintah tidak punya role?

Tidak ada. atau saya balik bertanya, jelaskan role-nya apa?

Menaikkan harga BBM , menurunkan harga BBM. Apa itu? Saya tidak lihat arah sarna sekali. Sri Mulyani itu pinter ya pinter. Tapi, maaf ya, dia tidak lebih dari boneka IMF dan Bank Dunia.

Kalau kebijakan ekonomi Indonesia akan berlanjut teras seperti ini. Kira-kira Indonesia Jadinya seperti apa ya?

Yang pegang ekonomi sekarang ini sudah puas, bahagia dan memuji diri karena sudah mencapai pertumbuhan maksimal 6-7 persen pertahun. Dengan prestasi seperti itu, 100 tahun yang akan datang Indonesia akan tetap menjadi negara miskin.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dan kapan Indonesia akan mencapai double digit growth?

Kadang banyak alasan yang mengatakan kalau Indonesia itu terlalu kompleks. Apakah China itu tidak lebih kompleks?

Terlalu bermacam-macam alasan. Kita dengar: "Indonesia itu kekurangan infrastruktur, banyak kemiskinan, kebodohan." ltu semua tidak bisa menjadi alasan. Karena dengan begitu banyaknya masalah juga, dinamika ekonomi di India sudah jauh lebih baik dari Indonesia. Tidak ada alasan sebenarnya untuk begini terns.

Di bawah kepemimpinan SBY-JK bisakah itu tercapai?

It's impossible. Mereka ini jalan tanpa peta Kalaupun sampai tujuan itu berarti kebetulan. Dan, kemungkinannya tidak akan sampai tujuan.

Indonesia sebetulnya sedang menuju tahun 2045, 100 tahun kemerdekaan, 100 tahun pembangunan Tapi, saya ada satu pertanyaan untuk semua orang yang mau menjadi capres ataupun cawapres: "pada tahun berapa Indonesia akan menjadi negara maju?". Sebutkan tahunnya? Apakah tercapai abad 21 ini atau tidak? Apakah 100 tahun kemerdekaan belum mampu?

Saya tidak akan bertanya, "kapan Indonesia lepas dari kelaparan dan kemiskinan". Tapi, kapan menjadi negara maju. Paradigma ekonomi yang beredar sekarang ini sangat merugikan rakyat. Tidak ada visi sama sekali. SBY hanya senang kalau bisa mempertahankan diri saja. Tidak ada tujuan selain itu. Not at all.

Lihat misalnya, Departemen Kesehatan. Ibu-ibu hamil di Indonesia, kurang lebih 70 persen, menderita anemia. ltu berarti anak yang tumbuh di dalam rahim ibu sangat tidak menguntunggkan. Lalu, begitu anaknya lahir kurang gizi. Dampaknya, anak yang masuk sekolah tidak bisa konsentrasi. Perkembangan otaknya secara fisik akan berkurang. Ini kekerasan. Mulai dari kekeraasan kecil hingga diakumulasikan menjadi kekerasan yang besar.

Di sisi lain ada kesenjangan hidup yang menganga di Indonesia ini. Luar biasa.

Kalau kita lihat PDIP, dia katakan terus menerus mau turunkan sembako. Hanya itu saja. Konsep ini tidak lebih daripada tensoplas. Penyakitnya atau lukanya, yang ada di bawah itu tidak disentuh. Hanya ditutupi saja dengan tensoplas. Pertanyaan saya, bukan kenapa harga sembako tidak turun? Tapi pertanyaan saya terbalik, mengapa sembako yang begitu murah, rakyat tidak mampu beli? Soal daya belinya.

Sembako di Indonesia sebetulnya murah. Masalahnya rakyat begitu miskin sehingga tidak mampu membeli sesuatu yang sangat murah. Konsepnya terbaIik, saya tidak mau turunkan sembako. Tapi, angkat daya beli rakyat. Masalah sembako itu hilang dengan sendirinya. ltu baru pendekatan yang melihat penyakitnya. Daripada tensoplas. Jadi, PDIP tidak punya konsep dan tidak ada apa-apanya untuk rakyat. Permainan ini hanya permainan marketing saja.

Kalau gaya kampanye SBY Anda melihatnya bagaimana?

Kalau saya melihatnya grup SBY punya semacam penyakit mental Skizofrenia. Kalau Senin, Rabu dan Jumat, mereka sangat membanggakan prestasi pemerintahannya. Kalau Selasa, Kamis dan Sabtu mereka mengakui ada masalah buruk, tapi itu efek dari luar. Dan mereka tidak salah. Jadi, not my fault. Sementara di luar hari itu memuji prestasinya. Jadi bolak-balik di antara dua sikap ini.

Saya melihat rakyat Indonesia sudah capek. Karena apa?

Pilihannya hanya begitu-begitu saja. Nothing new. Jangan heran jika golput meningkat.

Bagaimana kali ini publik bisa memilih pemimpin yang mampu mendeliver harapan-harapan publik. Rizal mengatakan, kita bukan hanya butuh pada kepemimpinan baru tapi jalan baru.

Setuju. Jumlah rakyat Indonesia yang ingin perubahan yang riiI itu besar, baik pemuda, mahasiswa, orang desa, kota, keinginannya untuk perubahan itu besar. Tapi, pilihan yang ada tidak seperti itu. Sebenarnya itu tergantung struktur organisasi, partai, keuangan, nama yang populer, bisa pegang media, atau tidak. Ini faktor riil politik. Jadi, kita tidak juga bisa seperti jatuh dari langit dan ganti semuanya. ltu tidak bisa.

Di dalam sejarah selalu sama. Kamu ingin berubah, maka harus membangun gerakan. Jangan hanya mau perubahan secara kilat saja. Tidak bisa. Yang ada di sini sekarang benar-benar status quo.

Jadi, menarik waktu Orba itu jatuh, yang masuk buku sejarah itu adalah Soeharto sendiri. Tapi ini penting, yang tidak berubah sama sekali adalah kelompok orang yang berkuasa bersama Soeharto. Mereka membuat transisi tanpa gangguan. Dari sistem Orba ke sistem reformasi. Dan mereka menguasai sistem demokrasi ini. Karena semua kartu ada di tangan mereka.

Maaf ya, sebetulnya Soeharto tidak dijatuhkan oleh rakyat yang dari bawah dengan gerakan yang begitu dahsyat. Tidak ada people power yang independen. Rakyat waktu itu menjadi alat oligarki yang berkuasa. Mereka yang jatuhkan Soeharto dari atas. Rakyat menjadi alatnya. Pintunya dibuka untuk rakyat dan mahasiswa. Yang bermain oligarki.

Dan begitu Soeharto tidak ada, gerakan perlawanan habis. Pecah dan bicara dalam seribu bahasa dan punya 10.000 arah. Perlawanan yang muncul pada tahun 1998 sekarang tidak exist. Karena isunya waktu itu hanya jatuhkan Soeharto. ltu bukan konsep. Soeharto adalah orang figur. Sistemnya Soeharto tetap ada tanpa Soeharto. ltu fakta, kita harns menerima itu. Kejadian pada tahun1998 sebetuInya hanya mobilisasi of the last minute. Bukan mobilisasi panjang yang ada gerakan, sel-sel-nya, hirarki, ideologi yang jelas, diagnosis masalah yang jelas, konsep alternatif yang jelas. Yang ada kesempatan yang muncul, karena rupiah collapse, itu kesempatan, suddenly. Momen itu muncul cepat dan hilang cepat.

Lihat figur-figur sekarang, mana yang bukan hasil Soeharto? Termasuk Megawati. Dia hasil Orba. Dia bukan hasil ayahnya. Dia benar-benar 100 persen ~ Setiap atom dalam tubuh Megawati adalah hasil sistem Orba: sistem pendidikan, konsep kenegaraan, konsep tentang rakyat, konsep tentang birokrasi. Buktinya, misalnya, begitu Megawati menjadi presiden, ia memakai Bambang Kesowo. Dia benar-benar antek Soeharto. Ryas Rasyid datang ketika itu. Dia punya konsep baru, mari kita ganti konsep administrasi. Direformasi biar itu jadi pendobrak. Bambang Kesowo biJang," Janganlah .. administrasi kami tidak seperti itu, kita sudah punya dan jalan dengan baik kok!'. Ini adalah lanjutan dari sistem yang dibangun Soeharto. Dan padahal Mega dikasih kesempatan untuk membuat perubahan yang riil, malah dia sangat senang dengan administrasi. dan administrator yang diwariskan Orba. Ternyata Mega tidak menjadi pendobrak untuk perubaban, tetapi justru banteng untuk kontinuitas.

Satu komentar tentang Gus Dur. Saya waktu itu menganggap Gus Dur itu figur yang sebenamya mengerti masalah dasar. Kesalahan fatal Gus Dur adalah dia menjadi presiden dengan jumlah suara dalam Pemilu 1999 begitu kecil. Sehingga, dia membuat aliansi MPR untuk menggeser Megawati. Dia mulai dari posisi yang sangat lemah. Dan dia coba menjadi reformer yang agresif. Tetapi sikap begitu mustahil. Dan akhimya dia kalah. Gampang digeser. Dan Mega justru memhantu sisa orba yang anti-reformasi waktu itu untuk menjatuhkan Gus Dur.

Seharusnya 24 bulan pertama Gus Dur membuat gerakan rakyat. Hanya rakyat yang bisa lawan sisa-sisa Orba ini Baru bisa coba reform ABRI, birokrasi, semuanya. Jangan coba macam-macam kalau tidak punya senjata.

Apakah yang perlu dilakukan cepat?

Banyak orang sekarang menunggu gerakan yang lebih berarti. Saya sangat senang sebenarya bahwa Rizal, menjadi figur politik dan gerakan. Dari pada menjadi kalangan elite yang mengambang. Jadi, kita selalu bicara tentang massa yang mengambang atau floating mass. sebenarnya Indonesia juga banyak elite yang mengambang. Mereka tunggu saja diangkat menjadi menteri. Mereka mengambang terus. "Pakai saya, pakai saya. Saya tidak mau memihak ke mana pun."

Ternyata ada calon presiden yang juga mengambang, misalnya Sri Sultan. Dia hanya menunggu partai mana yang akan memakai dia. Seratus persen mengambang, dia tidak peduli partai punya pandangan apa, massa apa, dia katakan itu di Metro 'lV, saya catat. Kalau bersikap begitu, tidak beda dati cangkir yang kosong. finggal diisi. apapun, dia terima. Asal dia punya kesempatan untuk berkuasa. Saya sebutkan ini "My turnisme. " Jadi you sudah punya giliran. Sekarang ini .giliran saya.

Kembali ke Rizal. Saya senang dia memilih untuk berpolitik langsung. Saya kenal Rizal sudah 23 tahun. Saya juga kenal Erros lama sekali. Erros sudah lama menjadi figur politik. Kalan you pindah dari posisi mengambang itu dan punya gerakan, organisasi, dan lain sebagainya. Ltu berarti anda pindah dari non prinsip ke prinsip. Menjadi orang yang memiliki posisi yang je1as, berpendirian. Dan, saya sudah lama menunggu Rizal untuk berbuat seperti itu. Turun kakinya ke bumi politik ini ambil sikap. Memilih arah. Memperjuangkan arah tersebut

Kalau kita menjadi political figure, mau tidak mau, kita membuat musuh politik. Taking side. Taking position. Yang rakyat tunggu adalah, gerakan, organisasi, daftar prinsip yang je1as, dan bisa menjadi pegangan. Lalu biarkan mereka memilih. You mau change, arahnya ke mana? Jelaskan, sebutkan. lalu, be loyal about what you say. Kalau rakyat mau, they will join you. Kalau mereka menolak. berarti yang you pasarkan ke rakyat itu tidak laku. Dan, kalau tidak mau, you ganti atau pergi. As simple as that.

Komentar anda tentang Rizal?

Satu, dia sangat-sangat konsisten. Baik dia berdasi atau tidak berdasi. Dan, dia benar-benar ingin membuat Indonesia berubah supaya rakyat bisa makan. Di lubuk hatinya,feelingnya, rill dan kuat.

Rizal sebenamya orang yang marah. Tapi, bukan marah dalam arti destructive. Marah dalam arti frustasi dan tidak bisa menerima lagi yang ada ini sekarang. Ini seperti kemarahan yang tidak berbeda dengan kemarahan Soekamo waktu mengalami penjajahan. ltu semacam motor ataupun bahan bakar yang mendorong pia untuk berjuang terus. Menghadapi risiko apapun

karena menerima yang ada ini sudah tidak menjadi pilihan lagi. Makin dia keliling Indonesia, makin dia keliling melihat orang Indonesia. dia sebenamya makin sedih dan marah.

Baik dia menang atau tidak saya tidak peduli. Kita salut bahwa dia take sides, memihak dan coba berjuang. Kalau temen-temennya elite di atas, mau menertawakannya silakan. Tapi, kita lebih menghormatinya.

Diluar elektabilitas, bisakah Rizal ramli mendiliver harapan-harapan publik?

Ya. terus terang dalam sejarah Indonesia saya melihat ada dua figur yang benar-benar menguasai konsep ekonomi, big picturnya, itu Widjoyo dan Rizal. Dan pandangan mereka bertentangan. Widjoyo sudah kita rasakan, bahkan sampai cucunya. Dan, kenapa Bank Dunia, IMF, Amerika Serikat, tidak mau Rizal dan menyukai boneka ini terus. Karena mereka mengerti, hanya Rizal yang punya conceptual capacity, yang seperti Widjoyo dulu punya. Dan, mereka nanti takut pusing dengan konsepnya Rizal. Karena apa?

Sesederhana ini. Sebutkan satu negara yang membuat transformasi dari miskin ke menengah atau kaya yang ikut resep IMF dan Bank Dunia. Tidak ada satu pun di bumi ini. Indonesia adalah success case Bank Dunia. Kasus ini yang membanggakan buat mereka. Korea, Thailand, China, India tidak. Mereka semua punya sikap terhadap organisasi-organisasi intemasional ini. If you want to join us dan help us dan kasih dana silakan. If you don't. Go to hell.

Resep IMF dan Bank Dunia adalah resep untuk menjadi anak

buah Amerika Serikat dan Eropa. Junior Partner. Neuer equal partner. Rizal punya sikap kritis akan hal ini.

Mengapa Indonesia senantiasa mengikuti resep lembaga kreditur sementara negara-negara lain berani menolak?

lni hanya Indonesia yang mau begini. Begitu kuat mentalitas kolonial yang sangat parah. Pertentangan kuat dengan Bank Dunia sudah bergetar. "Gimana kita nanti!" Padahal, you don't understand your cards. Indonesia tidak pemah paham secara intemasional. Berapa banyak kartu yang ada di tanganmu?

Mengapa Bank Dunia mau kasih uang di sini. Apakah Bank Dunia ingin sekali melihat Indonesia menjadi kompetitor yang besar sekali? No, mereka tidak peduli tentang hal itu.

Barat takut dengan situasi di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah apapun di Indonesia diberi infus. Yang menentukan kerannya Bank Dunia itu buka atau tidak, Pentagon, CIA, dan State Department. Keputusan Bank Dunia adalah keputusan politik dan security. Negara-negara yang tidak pernah dicintai Barat tidak pernah dapat uang, kan?

Siapa yang dapat banyak, Mesir. Kenapa? Karena Timur Tengah harus dijadikan stabil. The money follows the power. Not the power follows the money. Jadi, apakah Indonesia itu penting bagi dunia Barat? Ya, sangat penting. Jadi, nasihat dari saya ke Indonesia adalah use your power, use your cards. Siapa yang mengerti ini? Rizal mengerti ini. Makanya, justru lembaga intenasional yang bergetar ... , ''Wah ada yang paham." Rizal tidak punya mentalitas kolonial sama sekali.

Rizal itu pragmatik sekali. Tapi, pragmatism yang dimulai dati sikap yang jelas. Pragmatism artinya "Saya tahu saya mau ke mana. Dan, saya tahu berapa langkah untuk menuju ke sana. Tanpa membuat seluruh sistem collapse." Pragmatism dalam arti menang. Mencapai goalnya.

Seandainya orang seperti Rizal bisa jadi presiden sekarang, maka saya yakin Indonesia akan mencapai kemakmuran dan menjadi negara maju pada tahun 2045. Karena fondasi sudah dibuat tahun 2009. Sementara sekarang ini.

Kritik Anda kepada Rizal ?

Saya salahkan Rizal untuk satu hal. Kalau kita pakai istilah Barack Obama "Change" ini punya dua sifat, bisa change itu punya arti mengkritik yang lama, tapi change juga punya sifat harapan kepada sesuatu yang baru. Untuk memilih harus ada kedua sifat ini. Saya melihat Rizal terlalu sering mengkritik saja. Rakyat tidak akan pemah memilih sesuatu yang seratus persen negatif. Memang kita perlu kritik, tapi only twenty five percent, 75 persen kasih sesuatu yang exciting ke depan. Berikan rakyat tujuan berikan rakyat harapan. Jangan hanya hope yang kosong. Formula ini yang membuat orang akan bergabung.

Saya lihat di sini Erros yang lebih kuat. Create a concept about where you going. Dan mengapa ke sana? Erros itu konseptor zaman Mega. Mega itu hatinya dingin, tidak peduli dengan rakyat, yang peduli itu Erros. Dan Erros menjadi jembatan antara rakyat dan Mega. Oleh karena itu, sejak tidak ada Erros PDIP itu hilang hatinya. Erros seorang budayawan. Dia paham perasaan rakyat. Kalau Rizal diajuga punya feeling, tapi dia mengerti dari sisi datanya, ini naik, itu merosot, dsb. Tapi, Erros menangis melihat situasi yang ada. Dan dengan kemampuan itu dia bisa melihat, where must we go? Jadi, saya kira kedua orang ini sangat komplementer. Erros harus belajar dari Rizal dan Rizal juga harus belajar dari Erros.

Terakhir, bagaimana caranya agar menaikkan elektabilitas Rizal dan Erros ?

Kalau mereka mengerti dirinya sebagai leaders of the movement, electable atau tidak itu tidak penting. Yang penting menciptakan sesuatu yang akhirnya punya kehidupan sendiri. Punya motor dan arah sendiri.

Pertanyaannya adalah, apakah setelah pemilu selesai Rizal punya gerakan baru? Kalau punya itu, tepuk tangan. Karena selama ini tidak ada gerakan di Indonesia. Sudah saatnya ada gerakan untuk menggeser sisa Orba yang akan berkuasa selamanya.

Ada joke tentang Indonesia yang lucu tapi sangat menyedihkan: "Indonesia is a country of great potential and always will be. Artinya, Indonesia adalah negara yang punya potensi besar, tetapi hanya berpotensi terus untuk selamanya. Kalau Indonesia terus seperti ini, catat Vietnam akan meninggalkan Indonesia..

MAJALAH ADIL NO.42 I III I 26 Februari - 25 Maret 2009

Dr. Rizal Ramli, Kandidat Presiden RI: "Kita Perlu Perubahan Riil,Bukan Pergantian"

Ada yang tak berubah pada diri Rizal Ramli, si 1okomotif perubahan. Gayanya selalu rileks mau mendengarkan ketika menemui siapa saja yang bertandang ke rumahnya. Bahkan di saat kondisi tubuhnya tidak fit, seperti di hari jumat, akhir pekan silam. "Hujan, kurang tidur, dan aktivitas yang pad at adalah kombinasi paling pas untuk membuuat siapa saja selesma," katanya, sambil terkekeh.

Rizal memang sibuk belakangan ini. Ketika melakukan sosialisasi ke daerah, dalam sehari, setidaknya ia akan mengunjungi lima tempat berbeda. Dari pagi sampai malam. Dari pasar becek hingga tempat pengajian. Dari ruang seminar sampai pemandian umum. Tak heran, tubuhnya terlibat lebih langsing. "Kalau ketemu kiai, seperti Kiai Anam (Choirul Anam, Ketua Umum PKNU, red), biasanya malah harus malam-malam, setelah jam sembilan, ha ha ha."

Ada lagi yang tak berubah dari diri kandidat Presiden itu, di saat kunjungan-kunjungan tersebut. Ia selalu menekankan pentingnya mengembangkan kemandirian ekonomi bangsa, menolak eksploitasi pemodal asing, dan mengembangkan aktivitas perekonomian produktif bukan spekulatif. Rizal adalah penentang pemikiran neokolonialisme yang am at tangguh.

Pada suatu masa, IMF (Dana Moneter Internasional) pernah dianggap sebagai representasi neokolonialisme. Dunia lalu mengenal dua kritikus IMF paling kencang di Asia: Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, dan Rizal Ramli. Kiprah politik Mahathir, boleh dibilang, sudah habis. Tapi, kiprah Rizal Ramli sepertinya baru akan dimulai lagi. Ditemui di rumahnya, di kawasan J alan Bangka, Jakarta, Rizal menguraikan gagasan-gagasan, pemikiran, dan motivasinya ketika memutuskan maju menjadi kandidat Presiden, tahun ini. Petikannya:

APA SEBENARNYA MOTIVASI ANDA MAJU MENJADI CALON PRESIDEN?

Sebenarnya, ini semua dilatari oleh kegelisahan saya melihat masa depan bangsa dan negara Indonesia. Di usia saya sekarang ini, saya mungkin sudah cukup mapan. Masih rutin diundang mengisi kuliah atau seminar di luar negeri, setiap bulan. Masih bisa memberikan konsultasi, advis, atau mengajar. Kalau saya mau, saya bisa menikmati semua itu dan abai terhadap segala situasi yang terjadi di negara ini.

Ternyata saya tidak bisa. Saya benar-benar prihatin melihat kondisi sebagian besar rakyat kita-hampir 80%-yang masih menderita. Mereka seolah belum merdeka. Padahal, kita sudah 63 tahun lebih memproklamasikan kemerdekaan. Bangsa kita seperti berjalan di tempat. 450 tahun lalu, semua negara di Asia kondisinya sangat; miskin. Sekarang, kebanyakan negara lain di Asia sudah maju pesat. Kita masih begini-begini saja. Saya ingin ada perubahan. Itu yang mendorong saya maju dalam pencalonan kali ini.

MENGAPA ANDA JUGA MENGUSUNG TEMA PERUBAHAN? TIDAKKAH TEMA ITU SEPERTINYA JADI TERDENGAR "BASI"?

Tidak. Yang saya tekankan di sini adalah perubahan yang sebenar-benarnya. Saya menawarkan sebuah jalan baru: sebuah jalan yang anti-neokolonialisme, sebuah jalan yang mandiri. Jika kita menempuh jalan baru ini, berarti kita harus merebut keedaulatan ekonomi dari kreditor asing dan korporasi multinasional. Benar-benar sebuah perubahan. Presiden sekarang, sewaktu kampanye dulu, memang menyinggung tema perubahan. Tapi, apa yang dilakukan kemudian? Tak lebih dari sekadar melakukan pergantian Presiden, bukan melakukan sebuah perubahan riil. Polah Presiden-Presiden sebelum ini tetap sama tunduk pada kekuatan-kekuatan modal besar.

CITRA ANDA SANGAT ANTI-ASING …

Saya tidak anti-asing. Saya punya banyak sekali teman orang asing, dari berbagai kalangan. Setiap bulan saya biasa diundang bicara di luar negeri. Tak pernah saya menyerukan siapa saja untuk bersikap anti-asing. Saya hanya ingin mendudukkan posisi kita harus se-derajat dengan bangsa-bangsa lain di dunia, karena itulah salah satu tujuan kita mendirikan negara ini. Saya tidak ingin negara ini dieksploitasi oleh kekuatan modal besar dari luar negeri.

Anda tahu, ketika saya menjadi pejabat (Menko Perekonoomian dan Menteri Keuangan), banyak orang asing yang mengaatakan mereka senang dengan transparansi yang saya kernbangkan. Mereka senang dengan sikap saya yang tidak birokratis dan tidak sogok-menyogok.

TAPI, ANDA TETAP DIKENAL SANGAT KRITIS TERHADAP IMF (DANA MONETER INTERNASIONAL) ...

Benar. Karena program-program IMF itu memang tidak cocok untuk dijalankan di Indonesia, atau bahkan di banyak negaara lain. Indonesia terbukti malah menjadi negara yang paling terakhir bisa keluar dari krisis Asia 1997-gara-gara mengikuti resep generik IMF. Anda ingat, hingga empat tahun yang lalu, tidak banyak orang yang mengkritik IMF. Hanya saya dan sedikit sekali teman. Sekarang, pemikiran bahwa program dan gaagasan IMF tidak cocok untuk dikembangkan di Indonesia sudah menjadi pemikiran mainstream. Presiden dan Wakil Presiden saja mengatakan hal seperti itu.

BAGAIMANA ANDA MELIHAT KRISIS YANG TERJADI SAAT INI?

Saya sudah memperkirakan akan terjadinya krisis ini sejak Januari 2008. Krisis ini disebabkan gelembung finansial di dalam negeri. Bursa kita menggelembung tanpa kontrol, begitu juga dengan penyaluran kredit untuk sektor properti komersial dan sepeda motor. Di saat yang sarna, pengawasan perbankan juga lemah. Bank turut terlibat dalam permainan hot money. Bank-bank asing yang jumlahnya terlalu banyak di sini juga lebih tunduk pada pemerintah bosnya di kantor pusat ketimbang memedulikan perekonomian domestik. Jadi sektor financial jadinya tidak terpegang. Sektor riil juga dihadapkan kepada masalah ekonomi biaya tinggi, buruknya infrastruktur, dan suku bunga tinggi. Dari luar negeri, gelembung finansial di Amerika meledak.

LALU?

Kita bisa bayangkan, mengatasi masalah di dalam negeri saja butuh perubahan kebijakan yang mendasar. Apalagi jika ditambah dengan masalah yang datang dari luar negeri. Ini benar-benar perlu penanganan yang hands on. Celakanya, yang muncul di negeri ini justru "statement-statement balon"-kosong dan sulit dipegang. Sunset policy pajak tiba-tiba diperpanjang. Penerapan safety guard ditunda-tunda. Nilai stimulus bisa berubah-ubah sampai lima kali. Sasaran stimulus fiskal berubah- ubah. Sementara itu, para pejabat keuangan malah membuat peraturan yang bisa membuat mereka amat berkuasa sekaligus terbebas dari ancaman pidana jika salah membuat kebijakan paada masa krisis. Saya benar-benar cemas melihat semua ini.

DAMPAK YANG ANDA BAYANGKAN?

Kalau seperti ini terus caranya, kalau pemimpin yang seperti sekarang atau pemimpin sebelumnya-berkuasa lagi, maka krisis mungkin baru akan berhenti setelah tiga sampai empat tahun. Itu pun karena berhenti dengan sendirinya setelah "daya ledaknya" habis.

KENAPA BISA BEGITU?

Karena pemimpinnya tidak hands on dalam mengatasi krisis ini. Pemimpin yang sekarang selalu bersikap, seolah-olah, semua masalah sudah selesai kalau ia sudah menggelar rapat berjam-jam, membuat paket kebijakan, dan merilisnya di hadapan media. Tapi, langkah pemerintah dalam menjalankan perekonomian secara benar tetap saja minim.

SEHARUSNYA?

Pemimpin harus menggerakkan kekuatan negara untuk terjun langsung dalam perekonomian, dan mengeluarkannya dari krisis. Tentu, setelah situasi normal, peran negara akan berangsur dikurangi dan swasta akan mengambil inisiatif.

KAPAN?

Dalam krisis ini, saya kira, jika pemimpinnya mau turun taangan seperti itu, tak sampai dua tahun kita bisa kembali pulih. Pilih pemimpin baru yang punya konsep jelas, maka kita akan lebih cepat pulih dari krisis.

ANDA DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA. MERASA DIZALlMI?

Bahwa saya merasa dizalimi, ya. Tapi, itu urusan hukum. Ranahnya berbeda dengan urusan politik. Saya tak suka membawa-bawa kasus penzaliman ini ke urusan kampanye. Kendati, kasus ini juga bisa menunjukkan kepada semua orang tentang seperti apa sosok rezim SBY sesungguhnya.

MAJALAH TRUST, No. 12 TAHUN VII. 19-25 JANUARI 2009

PKS Mulai Terbelah

Jakarta - detikCom

Selama ini Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dinilai sebagai satu-satunya parpol besar yang tetap kompak. Namun, saat Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) mendatangi markas PKS, mengapa Sekjen DPP PKS Anis Matta tidak tampak? Ada kabar PKS juga terbelah: kubu Presiden PKS Tifatul Sembiring dan Anis Matta.

Namun, perpecahan di tubuh PKS ini tidak sebesar PKB atau parpol lain. Benih perpecahan ini dipicu oleh rebutan pengaruh masing-masing kubu yang mempunyai kepentingan langsung terhadap capres dan cawapres yang akan diusung PKS pada Pilpres 2009 nanti. "Memang PKS nampaknya ada 2 kubu yang dimotori oleh Anis Matta di satu pihak dengan Tifatul dan Dr Hidayat di pihak yang lain," kata sumber detikcom di DPP PKS Senin (2/3/2009).

Menurut sumber yang memiliki peran penting di DPP PKS ini, kubu Anis Matta didukung oleh Wasekjen DPP PKS Fahri Hamzah dan kekuatan lain di internal PKS yang saat pilpres 2004 lalu mendukung Wiranto. Sementara kubu Tifatul dan Hidayat didukung oleh kekuatan kader PKS yang dulu memiliki jaringan di BEM seperti Zulkieflimansyah.

"Anis Matta didukung Fahri Hamzah cs yang dulu berpihak pada Wiranto. Kini mereka menemui lawan kuat karena Tifatul dan HNW (Hidayat Nur Wahid-Red) didukung kader-kader muda progresif macam Dr Zulkieflimansyah dan mantan-mantan aktiivis BEM," papar sumber tersebut.

Perpecahan 2 kubu di internal PKS yang sempat merebak sejak pertengahan 2007 ini semakin menguat saat Hidayat dilirik JK sebagai cawapres. Kubu Anis tidak setuju dengan pencalonan Hidayat baik sebagai capres atau cawapres, meski sebelumnya Anis menyatakan PKS mendukung pasangan JK-Hidayat. Konon, Anis memiliki calon sendiri yang saat ini masih belum diluncurkan.

"Kubu Anis Matta dan Fahri memang nggak setuju kalau HNW yang jadi capres atau cawapres, sedang Tifatul dan kubu Zulkieflimansyah maunya HNW yang dicapres dan cawapreskan. Ini sebenarnya yang merupakan masalah mendasarnya," papar sumber tersebut meyakinkan.

Perpecahan ini lanjut sumber tersebut sempat dapat ditutupi di media massa karena kekuatan Anis lebih kuat saat itu. Namun saat kekuatan Tifatul yang didukung oleh kader-kader muda progresif yang cinta kepada Hidayat bangkit, kekuatan 2 kubu ini menjadi seimbang.

"Tifatul didukung oleh para senior partai seperti Untung Wahono, Shohibul Iman, Muzammil Yusuf, Musholli dan lainnya. Kubu ini lebih kuat saat kubu Zul (Zulkieflimansyah-Red) memperkuat barisan Tifatul," pungkasnya.

Kabar perpecahan di tubuh PKS ini seakan didukung oleh fakta tak datangnya Anis Matta saat pertemuan elit PKS dengan JK di Markas DPP PKS di Mampang beberapa hari lalu. Sebaliknya, esok paginya, Anis dari Makassar menyampaikan pernyataan yang dinilai cenderung ingin merusak jalinan komunikasi PKS-Golkar yang mulai lengket.

Pernyataan Anis itu disampaikan sehari setelah pertemuan JK dengan elit PKS di Mampang. Usai menjadi khatib salat Jumat di Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar, Jumat (27/2/2009). Anis mengatakan bahwa PKS masih punya dua kekhawatiran. Pertama, Jusuf Kalla belum tentu serius maju sebagai capres. Kedua, Jusuf Kalla belum pasti dicalonkan oleh Golkar.

Lebih dari itu, di mata Anis figur JK masih kalah populer dibandingkan tokoh Partai Golkar lainnya, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X. Hal tersebut terlihat dari hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga. "Kami perhatikan hasil-hasil survei, JK kalah populer dibanding Sri Sultan," ungkap Anis.***